Tentang Saya

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh…

Salam sejahtera buat kita semua, saya seorang yang sedang mencoba menyampaikan ide-ide saya melalui tulisan, karena menyadari akan kemampuan komunikasi verbal saya yang masih belum baik. Semoga dengan tulisan saya mampu mengelola pemikiran-pemikiran saya bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Dan ini merupakan langkah saya untuk menulis melalui blog yang baru saya buat. Nah, sebagai perkenalan saya suguhkan sedikit otobiografi tentang diri saya, sebagai deskripsi diri. maaf kalau deskripsi diri ini kurang mutu. ^^
Minggu, 21 Juli 1990 adalah hari yang bersejarah bagi hidup pria bertubuh kecil ini, pada pagi itu ia dilahirkan sebagai bayi yang mungil dari seorang ibu yang sangat mencintainya sejak masih di kandungan, sang ayah dengan bahagia menerima kedatangannya. Dalam suasana menegangkan dan akhirnya menjadi kebahagiaan yang teramat sangat ketika terdengar suara tangisan bayi laki-laki kecil yang menggemparkan seluruh isi ruangan. Bukan panik, tapi gempar kebahagiaan seluruh saudara yang sudah lama menunggu dengan penuh harap-harap cemas.
Alhamdulillah saya dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang taat pada Islam. Hal ini sangat saya syukuri, dan selamanya saya menjadi seorang muslim. Bayi dari seorang bapak bernama Bahrudin dan seorang ibu bernama Halimah seakan tersambut dengan baik dalam dekapan keduanya. Ketika itu kedua orangtua sepakat untuk member nama bayi itu Abdur Rouf yang berarti hamba yang pengasih, dan nama itu sekarang dimiliki oleh seorang yang menulis tulisan ini. Saya kerap disapa dengan nama panggilan Auf atau Aa (Di rumah) dan sering dipanggil dengan panggilan Ouf (Beda dikit yah? Hhehe…) oleh teman-teman saya yang se-kampung. Saya anak ke 7 dari 8 bersaudara, putra ke 4 dari 5 putra orangtua. Diantara mereka, saya dan teteh pertama alhamdulillah beruntung mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal lebih tinggi dari yang lainnya (mungkin nanti adik menyusul). Kebanyakan dari kakak saya melanjutkan pendidikan nonformal di suatu pondok pesantren. Saya-pun dulu selalu diminta oleh orangtua untuk menjadi santri saja, tetapi saya memiliki pendirian untuk melanjutkan pendidikan formal saja, yang penting pondasi agama tetap saya pegang erat-erat.
Daerah kelahiran sama dengan kedua orangtua, yakni di pedesaan pesisir laut yang memiliki nama Desa Terate, masih termasuk kecamatan Kramat Watu meskipun sedikit condong ke daerah Bojonegara dan Cilegon. Kalau dikatakan berada di daerah perbatasan memang benar, kadang saya sendiri bingung jika sudah ditanyai dari daerah Banten sebelahnya. Kadang saya bilang dari Serang, Terkadang dari Cilegon. Kalau ditanya dari kecamatan mana, saya kadang bilang dari Keramat Watu, kadang pula saya bilang dari Bojonegara bagi orang yang bingung di Kramat Watu sebelah mananya. Jadi bingung kan? Hehehe… yang pasti jika para pembaca ingin kerumah saya, (jika dari Bandung) nanti naik bus tujuan Merak, sampai terminal Pakupuatan jangan turun, lanjutkan perjalanan menuju Cilegon Timur, kemudian turun di Terminal Bayangan Serdang, dari situ anda bisa langsung naik ojek (atau taksi bagi yang tajir, hehe…) dengan tujuan desa Terate, sampai deh. Mudah kan?? (Penting ga? Hehe…).
Saya saat ini ditakdirkan memiliki tinggi badan 158 cm dan berat badan 43 kg, tergolong pendek dan kurus yah? Tapi itu tidak masalah, toh tinggi dan berat badan tidak menentukan keberhasilan seseorang. Masih saya ingat, ketika sedang mendaftar masuk SD di desa kelahiran bersama Ibu, ada pengukuran berat badan, dan ternyata berat badan saya masih kurang dari ideal untuk anak-anak seusia waktu itu, pencatat berat badan lalu mengatakan “Bu, ini anak kurang makan yah? Hehehe…” (dengan nada bercanda). Ada-ada saja yah, hehe…
Saya pertama kali mendapatkan pendidikan formal sekitar juli 1997, ketika saya berusia 7 tahun saya dimasukkan di SDN Genurit, yang tidak lain adalah SD yang berada di desa kelahiran. Kualitas SD yang jauh dari cukup baik menyebabkan saya menjadi orang yang sedikit bengal waktu itu, bersama dengan teman-teman seperjuangan (Hehe…). Tidak jarang saya mendapat hukuman dari guru-guru SD karena kenakalan bersama-teman-teman. Belajar bagi saya ketika itu adalah hal yang tidak menyenangkan dan sangat membosankan, saya lebih senang bermain bola di halaman sekolah daripada belajar di kelas. Karena hal inilah saya menjadi anak yang memiliki prestasi akademik yang tidak bagus. Dengan status sebagai anak-anak waktu itu, bisa dianggap wajar atau tidak? Kalau menurut pandangan saya yang sekarang, hal itu tidak wajar jika dibandingkan dengan anak-anak di kota.
Lulus dari SD tahun 2003 dan dilanjutkan di MTs Al Inayah. Masih mirip dengan keadaan saya ketika SD, karena lingkungan di sana masih mirip dengan keadaan ketika SD, orang-orang yang memiliki kesadaran untuk belajar yang rendah dan menganggap sekolah untuk mengisi waktu saja. Ketika itu juga saya masih bersama dengan sebagian teman-teman bengal SD yang juga melanjutkan sekolah di sana. Kelas 3 MTs, saya sedikit demi sedikit mulai menyadari pentingnya belajar. Di kelas 3 itu juga-lah saya mulai menunjukan peningkatan prestasi akademik, walaupun masih belum begitu signifikan, tetapi cukup baik untuk mengembangkan diri kea rah yang lebih baik.
Lulus dari MTs Al Inayah tahun 2006, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di MAN 2 Serang. Di MAN 2 Serang inilah saya mulai merasakan pengembangan diri di bidang akademik maupun organisasi. Masuk di kelas X.1 (kelas unggulan di sana) membuat saya terpacu untuk belajar lebih baik lagi, karena memang lingkungannya-pun mendukung untuk belajar. Hal ini yang membuat saya selalu mendapatkan 3 besar terbaik di sana. Saya juga mulai menjadi siswa yang aktif di organisasi, organisasi yang pernah saya geluti di MAN 2 Serang yakni, OSIS sebagai wakil ketua, RISMANDA sebagai kadiv. Kaderisasi, IPMFK (Ikatan Pelajar Matematika Fisika Kimia), Pramuka, sempat juga selama 1 tahun menjadi anggota KAPMI Serang, dll. Saya merasa jauh lebih baik daripada masa lalu di SD dan MTs. Tapi bukan tanpa manfaat saya sekolah di SD dan MTs yang dulu, di MTs saya mendapatkan pendidikan agama yang cukup baik, dilanjutkan ke MAN yang memperkuat sisi religius saya. Pendidikan agama sangat utama untuk menjadi benteng pertahanan kita sebagai seorang muslim.
Kembali pada alur cerita (hehe…). Saya orang yang memiliki banyak cita-cita, terutama cita-cita yang sejak kecil saya idamkan yakni menjadi seorang ilmuwan fisika. Berbekal kesenangan saya pada mata pelajaran fisika pada saati itu saya mengharapkan bisa mengikuti berbagai macam lomba di bidang fisika. salah satu contoh adalah untuk mengikuti olimpiade fisika nasional. Walaupun tak tercapai, tetapipengalaman yang didapat cukup bermakna dalam kelanjutan saya menekuni bidang studi fisika. Saya melanjutkan pendidikan fisika di ITB (Sejak 2009) dan berencana untuk bisa melanjutkan S2 di Jepang (semoga bisa tercapai, amiin.^^). Meskipun banyak yang ingin diraih, tetapi tetap Allah yang memiliki segala keputusan, yang pentig tetap berusaha, saya meyakini bahwa proses yang baik akan membawa hasil yang baik pula. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu yang merubahnya (Q.S. Ar-Ra’d : 11)”. Saya lulus dari MAN 2 Serang pada tahun lalu (2009) dan alhamdulillah bisa melanjutkan studi di FMIPA ITB, dan alhamdulillah di tahun 2010 dijuruskan di jurusan Fisika ITB. Saya diterima di ITB melalui jalur SNMPTN. Sebelumnya, saya juga mengikuti UTUL UGM dan juga diterima di Teknik Nuklir, tetapi saya lebih memilih ITB karena memang sudah merencanakan jauh hari yakni ketika duduk di bangku kelas X.1 di Madrasah Aliyah.
Masih sedikit sama ketika di Madrasah Aliyah, di ITB saya juga mengaktifkan diri di beberapa organisasi, yang paling saya prioritaskan adalah di LDK (Gamais ITB) karena di sini sangat memungkinkan untuk menjadi mahasiswa muslim seutuhnya, memperkokoh pengetahuan keislaman, mempertebal fondasi berasaskan islam untuk diri sendiri, membangun kredibilitas yang tidak lepas dari norma-norma islam, mengepakan sayap dakwah khususnya untuk kalangan mahasiswa ITB, dll. Saya juga mulai aktif dalam dunia kepenulisan, karena sebagian orang yang memiliki nama besar adalah orang yang pernah menuliskan segala sesuatu yang ada dipikirannya. Untuk mendekatkan diri saya dengan Al-Qur’an, saya masuk di Majelis Ta’lim (Mata’) Salman, walaupun sekarang sudah jarang aktif disitu, tetapi ilmu yang didapat insya Allah sangat bermanfaat. Disini saya memperbaiki diri dan berusaha untuk semakin intens berinteraksi dengan Al Qur’an, dan sebagainya.
Semakin hari, harus semakin mantap dan bijak dalam memutuskan dan menjalankan aktifitas hidup di dunia ini untuk memperoleh keberkahan di akhirat kelak. Selagi masih muda, tak sepantasnya menghabiskan waktu untuk gemerlapnya kehidupan pemuda masa kini, aktifitas yang jauh dari budaya islam. Menghabiskan waktu untuk aktifitas yang bermanfaat akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki. Inilah secuil kehidupan saya dari bayi sampai sekarang ini. Hari ini dan seterusnya adalah kehidupan yang jauh lebih baik dengan aktifitas hidup yang baik pula.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Salam hangat,
Abdur Rouf