Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit membicarakan tentang perjalanan dakwah Rasulullah SAW kala beliau mengalami peristiwa luar biasa yang terjadi ketika masa-masa sebelum hijrah dimana posisi beliau waktu itu dalam keadaan terjepit antara titik keberhasilan dihadapan dan tekanan yang terus mendera. Peristiwa luar biasa itu pastinya sangat akrab dengan pikiran kita selaku muslim, yakni peristiwa Isra' Mi'raj. Banyak pendapat tentang waktu terjadinya isra' mi'raj, Salah satunya yang berpendapat bahwa Isra terjadi pada bulan Muharram tahun ke-13 dari kenabian atau 1 tahun 2 bulan sebelum hijrah. Pendapat lain mengatakan bahwa Isra terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ke-13 dari kenabian atau 1 tahun sebelum hijrah[1].
Detail terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj secara ringkas dijelaskan oleh para ahli hadits adalah sebagai berikut. Menurut Ibnul Qayyim mengatakan, menurut pendapat yang sahih, Rasulullah SAW di-isra'-kan dengan jasadnya dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dengan mengendarai buraq ditemani oleh malaikat Jibril, kemudian beliau dibawa ke langit dunia. Setelah itu beliau naik ke langit kedua dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Begitu seterusnya secara berturut-turut naik kelangit yang lebih tinggi sampai langit ketujuh. Tidak selesai sampai di situ, beliau terus menjelajahi Sidratul Muntaha dan naik lagi ke Baitul Makmur, kemudian diangkat lagi untuk menghadap Allah Yang Maha Perkasa dan mendekat kepada-Nya. Proses terjadinya Isra Mi'raj ini hanya terjadi dalam satu malam saja. Satu-satunya hasil dari perjalanan Isra' Mi'raj yang berlaku pada seluruh umat Muslim adalah perintah sholat 5 waktu. Alasan paling nyata dan paling besar dari perjalanan ini adalah firman Allah: "Agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami." (Q.S. Al-Israa: 1)[1].
Dari uraian di atas apa kita bisa bisa membayangkan bagaimana proses fisis terjadinya Isra' Mi'raj? bagaimana konsep fisika yang cocok dengan kejadian ini? Apa dampak yang dihasilkan dari konsep fisika yang kita pakai untuk peristiwa ini?
Dari beberapa artikel yang saya baca, serta obrolan-obrolan santai saya bersama beberapa teman, sebagian besar banyak yang mengaitkan peristiwa Isra Mi'raj ini dengan kosep teori relativitas khusus Einstein. Menurut beberapa artiel yang saya baca, Isra' Mi'raj bisa terjadi dengan cara Rasulullah SAW didampingi dengan malaikat Jibril mengendarai buraq yang bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya. Dengan begitu beliau bisa melakukan perjalanan jauh dalam waktu yang singkat menurut pengamat di bumi dan merasakan kejadian-kejadian yang Rasulullah alami relatif lebih lama menurut Beliau. Sekilas kita akan menganggukan kepala dengan apa yang sudah dituliskan di atas, namun mengapa saya masih meragukan/menolak pemaparan ini? Apakah bergerak dengan kecepatan cahaya sudah bisa sampai ke langit? lalu berapa jarak yang ditempuh rasulullah untuk sampai ke langit? Bagaimana keadaan seseorang jika bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya? Apakah yang dimaksud dengan buroq, kendaraankah, metode untuk perjalanan, istilah perjalanannya, atau lainnya? Baiklah, dengan sedikit pemahaman yang saya miliki tentang TRK, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mohon dikoreksi jika ada pernyataan yang menyalahi teori karena saya-pun masih dalam proses pembelajaran.
Mengutip dari pernyataan Pak Agus Purwanto, D.Sc. dalam bukunya yang berjudul Ayat-Ayat Semesta, hitungan kasar beliau mengenai kecepatan ruh dan malaikat adalah 18.250.000 kali kecepatan manusia. Jika Mi'raj dari Masjidil Aqsa ke langit dan kembali lagi ke bumi dilakukan mulai jam 8 malam sampai dengan jam 4 pagi, maka jarak yang ditempuh Nabi Muhammad SAW. mencapai 1.825.000.000 km dari bumi, dan ini hanya bisa mencapai planet Saturnus. Perhitungan ini baru menggunakan konsep fisika klasik. Bagaimana dengan konsep relativitas khusus? Dengan mengasumsikan kecepatan ruh dan malaikat sama dengan kecepatan cahaya (300.000 km/s), maka jarak yang berhasil ditempuh adalah 4.320 juta kilometer, hanya bisa mencapai planet Neptunus[2]! Dengan begitu berarti langit ada di sekitar planet neptunus dong? apa ini benar? Tentu kita tidak bisa menerima hasil ini karena kekuasaan Allah lebih besar daripada jarak Bumi dan Neptunus, dan alam semesta yang Allah ciptakan jauh-jauh lebih besar lagi daripada jarak hasil dari argumen ini. Selain itu, banyak sekali kekurangan-kekurangan dari hasil ini yang sudah menggunakan banyak macam asumsi-asumsi fisis. Kemudian, untuk pendukung argumen dengan teori relativitas khusus, jangan abaikan konsep kontraksi panjang dan dinamika relativistik dimana salah satunya adalah massa benda yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya akan meningkat dibandingkan dengan masa diamnya. Dari dua konsep ini, jika kita bergerak dengan kecepatan yang benar-benar mendekati kecepatan cahaya, maka tubuh kita akan menjadi tak terhingga tipisnya dan tak terhingga massa tubuhnya. Dengan begitu, mampukah tubuh kita menahan massa yang super besar dengan tubuh yang super kecil, bisa-bisa sesaat setelah mulai bergerak tubuh kita akan musnah terlebih dahulu, entah itu dalam bentuk ledakan, ataupun bentuk fisis lainnya. Tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi pada diri Rasulullah SAW karena beliau berada dalam kondisi baik-baik saja tanpa sedikitpun goresan luka seusai perjalanannya.
Bagaimana dengan buraq? Mungkin ini yang bisa menjawab kejadian Isra' Mi'raj, jika kita mengetahui tentang sesuatu yang berkaitan dengan buraq, tentunya berbagai macam pertanyaan mengenai proses perjalanan isra' mi'raj Rasulullah akan menemui kecerahan, namun apa itu buraq? kendaraankah? metode perjalanankah? atau lainnya? Bisakah kita kaitkan dengan konsep sains terutama fisika? Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai buraq, hanya sekilas diketahui bahwa makna harfiah dari buraq sendiri adalah "kilat", entah apa yang dimaksud kilat dalam konteks Isra' Mi'raj ini, kita belum bisa menemukan jawabannya. Atau adakah dari pembaca sendiri mengetahui penjelasan tentang buraq ini? Jika ada, penjelasannya.
Itulah sedikit penjelasan mengenai ketidak cocokan TRK dengan peristiwa Isra' Mi'raj yang dialami Rasulullah. Inti dalam tulisan ini adalah bahwa peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah ini masih belum kita dapati kecocokannya dengan ilmu sains yang sudah kita ketahui, atau entah memang tidak mungkin untuk kita ketahui dengan teori apapun karena peristiwa ini merupakan hal ghaib yang Allah tidak memberi pengetahuan kepada umat manusia. Tentunya tidak bijak jika kita langsung mengambil kesimpulan seperti itu, karena Allah SWT selalu memerintahkan umat manusia untuk terus berfikir, menggali ilmu tentang bidang apa saja. Jika memang bisa dijelaskan, semoga suatu saat nanti ada yang bisa menjelaskan dengan konsep fisika atau konsep lainnya tentang Isra' Mi'raj ataupun peristiwa lain yang belum ditemukan jawabannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berfikir dan mengkaji keindahan dan kemanfaatan penciptaan-Nya. Amiin.
Wallahu a'lam bishawab..
Referensi:
[1] Al-Mubarakfury, Safiyurrahman. Shahih Sirah Nabawiyah. Terjemahan, Penerbit Jabal, Bandung, 2010, 176-183.
[2] Purwanto, Agus. Ayat-Ayat Semesta. Mizan, Bandung, 2009, 309-311
Detail terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj secara ringkas dijelaskan oleh para ahli hadits adalah sebagai berikut. Menurut Ibnul Qayyim mengatakan, menurut pendapat yang sahih, Rasulullah SAW di-isra'-kan dengan jasadnya dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dengan mengendarai buraq ditemani oleh malaikat Jibril, kemudian beliau dibawa ke langit dunia. Setelah itu beliau naik ke langit kedua dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Begitu seterusnya secara berturut-turut naik kelangit yang lebih tinggi sampai langit ketujuh. Tidak selesai sampai di situ, beliau terus menjelajahi Sidratul Muntaha dan naik lagi ke Baitul Makmur, kemudian diangkat lagi untuk menghadap Allah Yang Maha Perkasa dan mendekat kepada-Nya. Proses terjadinya Isra Mi'raj ini hanya terjadi dalam satu malam saja. Satu-satunya hasil dari perjalanan Isra' Mi'raj yang berlaku pada seluruh umat Muslim adalah perintah sholat 5 waktu. Alasan paling nyata dan paling besar dari perjalanan ini adalah firman Allah: "Agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami." (Q.S. Al-Israa: 1)[1].
Dari uraian di atas apa kita bisa bisa membayangkan bagaimana proses fisis terjadinya Isra' Mi'raj? bagaimana konsep fisika yang cocok dengan kejadian ini? Apa dampak yang dihasilkan dari konsep fisika yang kita pakai untuk peristiwa ini?
Dari beberapa artikel yang saya baca, serta obrolan-obrolan santai saya bersama beberapa teman, sebagian besar banyak yang mengaitkan peristiwa Isra Mi'raj ini dengan kosep teori relativitas khusus Einstein. Menurut beberapa artiel yang saya baca, Isra' Mi'raj bisa terjadi dengan cara Rasulullah SAW didampingi dengan malaikat Jibril mengendarai buraq yang bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya. Dengan begitu beliau bisa melakukan perjalanan jauh dalam waktu yang singkat menurut pengamat di bumi dan merasakan kejadian-kejadian yang Rasulullah alami relatif lebih lama menurut Beliau. Sekilas kita akan menganggukan kepala dengan apa yang sudah dituliskan di atas, namun mengapa saya masih meragukan/menolak pemaparan ini? Apakah bergerak dengan kecepatan cahaya sudah bisa sampai ke langit? lalu berapa jarak yang ditempuh rasulullah untuk sampai ke langit? Bagaimana keadaan seseorang jika bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya? Apakah yang dimaksud dengan buroq, kendaraankah, metode untuk perjalanan, istilah perjalanannya, atau lainnya? Baiklah, dengan sedikit pemahaman yang saya miliki tentang TRK, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mohon dikoreksi jika ada pernyataan yang menyalahi teori karena saya-pun masih dalam proses pembelajaran.
Mengutip dari pernyataan Pak Agus Purwanto, D.Sc. dalam bukunya yang berjudul Ayat-Ayat Semesta, hitungan kasar beliau mengenai kecepatan ruh dan malaikat adalah 18.250.000 kali kecepatan manusia. Jika Mi'raj dari Masjidil Aqsa ke langit dan kembali lagi ke bumi dilakukan mulai jam 8 malam sampai dengan jam 4 pagi, maka jarak yang ditempuh Nabi Muhammad SAW. mencapai 1.825.000.000 km dari bumi, dan ini hanya bisa mencapai planet Saturnus. Perhitungan ini baru menggunakan konsep fisika klasik. Bagaimana dengan konsep relativitas khusus? Dengan mengasumsikan kecepatan ruh dan malaikat sama dengan kecepatan cahaya (300.000 km/s), maka jarak yang berhasil ditempuh adalah 4.320 juta kilometer, hanya bisa mencapai planet Neptunus[2]! Dengan begitu berarti langit ada di sekitar planet neptunus dong? apa ini benar? Tentu kita tidak bisa menerima hasil ini karena kekuasaan Allah lebih besar daripada jarak Bumi dan Neptunus, dan alam semesta yang Allah ciptakan jauh-jauh lebih besar lagi daripada jarak hasil dari argumen ini. Selain itu, banyak sekali kekurangan-kekurangan dari hasil ini yang sudah menggunakan banyak macam asumsi-asumsi fisis. Kemudian, untuk pendukung argumen dengan teori relativitas khusus, jangan abaikan konsep kontraksi panjang dan dinamika relativistik dimana salah satunya adalah massa benda yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya akan meningkat dibandingkan dengan masa diamnya. Dari dua konsep ini, jika kita bergerak dengan kecepatan yang benar-benar mendekati kecepatan cahaya, maka tubuh kita akan menjadi tak terhingga tipisnya dan tak terhingga massa tubuhnya. Dengan begitu, mampukah tubuh kita menahan massa yang super besar dengan tubuh yang super kecil, bisa-bisa sesaat setelah mulai bergerak tubuh kita akan musnah terlebih dahulu, entah itu dalam bentuk ledakan, ataupun bentuk fisis lainnya. Tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi pada diri Rasulullah SAW karena beliau berada dalam kondisi baik-baik saja tanpa sedikitpun goresan luka seusai perjalanannya.
Bagaimana dengan buraq? Mungkin ini yang bisa menjawab kejadian Isra' Mi'raj, jika kita mengetahui tentang sesuatu yang berkaitan dengan buraq, tentunya berbagai macam pertanyaan mengenai proses perjalanan isra' mi'raj Rasulullah akan menemui kecerahan, namun apa itu buraq? kendaraankah? metode perjalanankah? atau lainnya? Bisakah kita kaitkan dengan konsep sains terutama fisika? Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai buraq, hanya sekilas diketahui bahwa makna harfiah dari buraq sendiri adalah "kilat", entah apa yang dimaksud kilat dalam konteks Isra' Mi'raj ini, kita belum bisa menemukan jawabannya. Atau adakah dari pembaca sendiri mengetahui penjelasan tentang buraq ini? Jika ada, penjelasannya.
Itulah sedikit penjelasan mengenai ketidak cocokan TRK dengan peristiwa Isra' Mi'raj yang dialami Rasulullah. Inti dalam tulisan ini adalah bahwa peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah ini masih belum kita dapati kecocokannya dengan ilmu sains yang sudah kita ketahui, atau entah memang tidak mungkin untuk kita ketahui dengan teori apapun karena peristiwa ini merupakan hal ghaib yang Allah tidak memberi pengetahuan kepada umat manusia. Tentunya tidak bijak jika kita langsung mengambil kesimpulan seperti itu, karena Allah SWT selalu memerintahkan umat manusia untuk terus berfikir, menggali ilmu tentang bidang apa saja. Jika memang bisa dijelaskan, semoga suatu saat nanti ada yang bisa menjelaskan dengan konsep fisika atau konsep lainnya tentang Isra' Mi'raj ataupun peristiwa lain yang belum ditemukan jawabannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berfikir dan mengkaji keindahan dan kemanfaatan penciptaan-Nya. Amiin.
Wallahu a'lam bishawab..
Referensi:
[1] Al-Mubarakfury, Safiyurrahman. Shahih Sirah Nabawiyah. Terjemahan, Penerbit Jabal, Bandung, 2010, 176-183.
[2] Purwanto, Agus. Ayat-Ayat Semesta. Mizan, Bandung, 2009, 309-311